
Alessandro 'Alex' del Piero ALKISAH pada jaman Renaissance abad 14-15, hiduplah seniman bertalenta yang dijuluki Pinturicchio (pelukis cilik). Pelukis produktif yang terinspirasi dan karenanya tenggelam dalam kebesaran pelukis tenar masa itu, Raphael Perugino. Di abad ini, nama Pinturicchio kembali bergaung, dan Alessandro del Pierro (34) yang menggemakannya. Publik Italia memang menjuluki striker setinggi 173cm ini sebagai Pinturicchio. Sebab mereka punya garis hidup sama. Del Piero juga secara tak langsung banyak dihubungkan dengan pendahulunya, Roberto Baggio. Del Piero sendiri tentu saja tak pernah perduli dengan perbandingan yang dipopulerkan seniman Italia, Gianni Agnelli tersebut. Perbandingan yang sebenarnya melecehkan lantaran ia dianggap tak pernah bisa menyaingi kebesaran Baggio. Menjadi pemain sepakbola terkenal sudah menjadi hal yang disyukurinya.Pasalnya, ketika kecil ia tak pernah bermimpi menjadi pesepakbola handal. Cita-citanya sederhana : hanya menjadi sopir truk besar (lorry driver). Alasannya, lorry driver bisa berkeliling-dunia hal yang kini dilakoninya lewat sepakbola. Lahir dari keluarga sederhana di Conegliano Venetopada 9 November 1974. Ayahnya, Gino, adalah ahli elektronika, sedang ibunya, Bruna, ibu rumah tangga biasa. Bersama tiga temannya, Nelso, Pierpaolo, dan Giovanni-Paolo, Del Piero kerap bermain bola di halaman rumahnya. Ketiga temannya bercita-cita jadi pemain sepakbola. Tapi justru hanya Del Piero yang jadi pemain sepakbola beneran. Jikapun ada yang mendorongnya untuk serius menekuni bola adalah sang kakak, Stefano, yang memang pemain sepakbola profesional. Sayang, karir sang kakak mandeg lantaran cedera berat saat memperkuat Sampdoria. Tahun 1988 saat memperkuat AC San Vendemiano, bakat Del Piero tercium pemandu bakat. Usia 13, ia pun ditarik tim Padova Calcio. Empat tahun kemudian, pada usia 17 tahun ia mulai menjadi pesepakbola profesional, memperkuat Padova di Seri B. Cukup bermain 14 kali, kiprahnya langsung mengundang minat klub raksasa Juventus yang merekrutnya tahun 1993. Di klub berjuluk Nyonya Tua inilah namanya berkibar hingga ia menjadi langganan tim Azzuri, termasuk juga di pentas Piala Eropa 2008 ini. Seperti juga Pinturicchio, Del Piero mungkin tak bisa menjadi legenda utama di Italia. Tapi seperti juga Pinturicchio yang karyanya pada sejumlah gereja di Vatikan masih bisa terus diapresiasi hingga kini, Del Piero juga mungkin bisa menghasilkan sejumlah rekor monumental yang akan terus dikenang sepanjang masa. Sebotol Anggur untuk Donadoni ALESSANDRO Del Piero tak pernah bermain untuk Azzuri sejak Italia imbang 0-0 dengan Prancis pada ujicoba 8 September 2007. Banyak yang memprediksi, striker 33 tahun ini memang akan selamanya hilang dari peredaran timnas Italia. Tapi Del Piero punya tekad pribadi. Ia ingin di senja usianya menyumbangkan yang terbaik untuk tim Azzuri. Kiprahnya di Seri A bersama Juventus pun menggila. Menjadi top skorer dengan 21 gol! Pelatih Roberto Donadoni yang semula melupakannya pun mulai tergugah. Terlebih pahlawan Azzuri pada era 1990-an, Toto Schillaci, mengingatkannya lewat media. Katanya, ini saat yang tepat memanggil Del Piero karena ia sedang dalam performa puncak. "Sangatlah layak timnas memanggil pemain yang sedang dalam penampilan terbagus. Dan orang itu adalah Del Piero." Del Piero sendiri sangat mendambakan bisa memakai lagi kaos Azzuri. Kepada televisi, jauh sebelum ada pemanggilan ke timnas, ia membujuk Donadoni. "Untuk Roberto Donadoni terhormat. Saya minta Anda berpikir kembali. Lihat betapa bagusnya aku saat ini. Dan jika Anda membutuhkan sebotol anggur untuk merubah pikiran, saya akan segera kirimkan." Donadoni ternyata memang tergoda untuk memanggil striker veteran ini. Dan Del Piero punya hutang kepada sang pelatih: sebotol anggur! Saya Top Skorer Sejati BERBICARA penuh emosional di situs Juventus, Alessandro Del Piero mengungkapkan curahan hatinya, bagaimana ia sempat dipandang sebelah mata, sebelum sukses membuktikan ketajamannya dengan menjadi top skorer di Seri B pada 2007, dan top skorer di Seri A 2008 ini. Berikut pernyataan Del Piero: Saya top skorer sejati, untuk kedua kalinya berturut-turut, dan untuk pertamakalinya di Seri A. Jika ingin menyombongkan diri, maka saya mungkin akan berkata,"bukankah saya pernah bilang kepada Anda bahwa saya bisa jadi top skorer?.". Saya bicara kepada mereka, yang tak percaya, dan tak pernah percaya kepada saya Tapi, begitu saya bisa mewujudkan hal ini, yang pertama terlintas dalam pikiran adalah," Anda pernah bilang bahwa saya memang bisa." Itu untuk mereka yang percaya, yang selalu percaya kepada saya. Kepada mereka yang selalu menyemangati, dan bekerja sama dengan saya. Kepada mereka yang selalu bersama saya, berbagi gelora, keringat, kegembiraan, dan menambah motivasi saya untuk meraih kemenangan. Akhirnya, inilah saya yang mencetak 21 gol di Seri A, total 24 gol musim ini. Tapi, di atas jumlah hitungan gol itu, yang paling penting adalah kita bisa kembali berpentas di Liga Champions! Il Fenomeno Vero DI Juventus, klub yang dibelanya sejak debut melawan Foggia pada September 1993, Alessandro Del Piero adalah legenda hidup. Dengan menjadi Capocannoniere alias top skorer seri A 2007-2008, ia menyamai reputasi pendahulunya Paolo Rossi. Rossi, pahlawan Italia di Piala Dunia 1982 yang kebetulan juga dari Juventus, sebelumnya adalah satu-satunya pemain Italia yang pernah jadi top skorer berurutan dari Seri B, lantas di Seri A. Belum cukup, Del Piero pun mencatatkan diri sebagai top skorer sejati di Juventus dengan torehan total 241 gol di berbagai ajang kompetisi. Ia pun menjadi pemain Juventus yang paling sering berlaga, sebanyak 557 kali, menumbangkan rekor pendahulunya, Gaetano Scirea yang menorehkan laga 552 kali. Tak heran, pendukung Juventus memberinya julukan agung "Il Fenomeno Vero" (Real Phenomenon). Ya, Del Piero memang benar-benar fenomenal, setidaknya bagi klub berjuluk La Vecchia Signora alias si Nyonya Tua tersebut. Awalnya Menjadi Kiper ADA cerita lucu tentang masa kecil Alessandro Del Piero. Siapa yang pernah menyangka, pada awalnya posisi Del Piero ternyata adalah kiper! Ya, saat usia tujuh tahun ketika bermain di klub anak-anak lokal, AC San Vendemiano, ia lebih memilih posisi sebagai kiper. Alasannya sangat lugu, khas pembawaan anak kecil: dengan menjadi kiper, ia bisa lebih lama memegang bola dengan tangan dibanding para pemain lain. Ibunya pun mendukung Del Piero menjadi kiper dengan alasan berbeda. Kata sang ibu, dengan jadi kiper, anaknya tak akan terlalu banyak mengeluarkan keringat, dan jauh terhindarkan dari kemungkinan cedera. Untunglah ada kakaknya, Stefano, yang menyadarkan mereka dari pandangan sesat tersebut. "Tidakkah kalian melihat Alex bagus untuk menjadi penyerang?," ujar kakaknya. Sejak itulah, Del Piero pun banting stir menjadi striker. Untung ada sang kakak Ya...
Bryan Tarore

No comments:
Post a Comment