Tuesday, November 18, 2008

Buffon Hampir Pindah ke Milan


Gianluigi Buffon telah menjadi simbol bagi Juventus. Namun kiper internasional Italia ini mengungkapkan bahwa dia punya kesempatan pindah ke AC Milan.

Seperti dilansir dari detiksport.com, Buffon merupakan sebagian dari pemain yang tetap bertahan di klub kota Turin ini disaat Juve terganjal kasus skandal Calciopoli. Beberapa pemain I Bianconeri pun memilih hengkang setelah klub tersebut terlempar ke seri B.

Pada saat itu, Buffon pun merasakan hal yang sama dengan para pemain lainnya yang memilih angkat kaki dari Juventus. Ia pun mengungkapkan bahwa dirinya hampir saja meninggalkan The Old Lady guna bergabung dengan Milan.

"Usai Piala Dunia 2006 saya hampir saja pergi untuk bergabung di Milan, namun saya merasa bukanlah hal tepat untuk pergi. Jika Juve tetap di seri A, mungkin akan berbeda karena saat itu saya tak senang dengan hal tak pasti," ungkap Buffon.

Meski demikian kepindahannya tersebut juga tidak terlaksana karena masalah harga. Namun Buffon mengutarakan bahwa sekarang ini bukanlah sesuatu hal yang penting untuk memikirkan pindah ke klub lainnya.

"Sekarang itu bukanlah yang utama. Namun jika ada tawaran 50 juta saya yang akan pertama meminta klub untuk menjual saya karena harga sebesar itu bisa digunakan untuk memperkuat skuad," ujar Buffon seperti dilansir Goal. (dtc)




Bryan Tarore

Trez: Alex Terbuat Dari Besi


David Trezeguet saat ini masih mengalami cedera urat di bagian kakinya saat menghadapi Zenit St. Petersburg pada bulan September lalu. Operasi pada kedua lututnya pun sudah dijalani.
Kini, ia hanya menanti masa pemulihan, dan akan direncanakan tampil pada Februari tahun depan. Meski ia tidak tampil, ia selalu memantau perkembangan timnya. Ia merasa, Juventus saat ini berada dalam posisi aman.
Salah satu alasan pendapatnya tentang kemajuan Bianconeri adalah statistik meningkat permainan rekan sekerjanya Alessandro 'Alex' Del Piero.
Kepada Gazzetta Dello Spport, Terezegol memuji sang kapten Juve dengan mengatakan, "Dia (Alex) adalah pemain terbaik di sepakbola Italia, dan akan terus membuat pencapaian hingga beberapa tahun ke depan karena ia terbuat dari besi.".
Ia juga menyatakan, banyak pemain berkelas dunia di luar Juventus, namun tidak ada yang menandingi karakter yang menjadi ciri khas Alex.
Mengingat masa di Seri B, ia mengatakan, scudetto tahun ini akan menjadi spesial baginya.
"Kami akan terus berjuang untuk menjadi kampiun hingga akhir, dan scudetto akan bermakna tersendiri bagi saya, Alex, Buffon, Nedved, dan Camoranesi, karena kami bersama pernah mengenyam rasanya berada di Seri B.". (zbl)


Bryan Tarore

Tuesday, November 11, 2008

Sissoko Terancam Absen lawan Inter


Gelandang Juventus Mohamed Sissoko tengah ketar-ketir menanti keputusan komisi disiplin Serie A. Pada pertandingan melawan Chievo hari Minggu (9/11/2008) lalu, ia tertangkap kamera mengambil kaki Mario Yepes.

Kemenangan Juventus atas Chievo ternoda oleh ulah Momo Sissoko. Pemain asal Mali itu tertangkap kamera menggaet kaki bek klub berjuluk Flying Donkey Yepes dari belakang saat tengah berjalan.

Aksi tercela itu kontan membuat komisi disiplin Serie A mengambil tindakan tegas. Banyak yang meramalkan, mantan pemain Liverpool itu akan mendapat hukuman larangan dua kali bertanding seperti dilansir AP, Selasa (11/11/2008).

Jika keputusan itu benar, maka Sissoko dipastikan tidak akan tampil saat Bianconerri menjamu rival abadi mereka Inter Milan pada 23 November yang akan datang.

Meski demikian pasukan kuda zebra tidak perlu cemas, pasalnya saat itu beberapa pilar mereka seperti Claudio Marchisio, Gianluigi Buffon dan Christian Poulsen kemungkinan sudah bisa kembali ke lapangan.(zbl)




Bryan Tarore

Juve Sambut Poulsen, Marchisio

Performa Juventus di lapangan yang terus meningkat dalam beberapa minggu terakhir, juga berpengaruh di luar lapangan dengan kembalinya Christian Poulsen dan Claudio Marchisio dari cedera.



Setelah memulai musim ini dengan buruk, Bianconeri kembali bangkit dan menang dalam empat pertandingan berturut-turut di Serie A Italia yang menerbangkan mereka ke posisi kelima klasemen sementara.

Pekan ini, mereka akan menjamu Genoa di Turin, dan mereka optimis untuk kembali menambah kemenangan dalam tangan Si Nyonya Tua.

Harapan untuk menang ini semakin bertambah dengan kehadiran Christian Poulsen dan Claudio Marchisio, yang baru saja sembuh dari cedera ringan, dan kemungkinan akan ambil bagian dalam laga itu.

Berita yang dimuat di situs resmi Juventus itu tentu membuat para fans Juve bahagia dan berharap timnya tak akan mengecewakan mereka.

Sebelumnya, Marchisio diharapkan tampil saat menang 2-0 atas Chievo akhir pekan lalu, namun pihak klub memutuskan untuk memberi istirahat lebih untuk memulihkan cederanya.

Kedua pemain terbukti mampu mengikuti sesi latihan, Senin (10/11), dalam persiapan menjamu Rossoblu, Kamis ini.*(goal)






Bryan Tarore

Juve Bisa Raih Dua Trofi


TURIN - Performa baik yang ditunjukan Juventus pada beberapa laga terakhir, termasuk di Liga Champions, menjadikan Juve sebagai tim yang pantas disegani. Kiper Gianluigi Buffon juga menyebutkan jika timnya pantas meraih Scudetto dan trofi Liga Champions.
Akhir pekan lalu, Juve sukses mempecundangi Chievo Verona 2-0. Walau tercecer dari empat besar (peringkat enam klasemen, 21 poin), Juve hanya terpaut tiga poin dengan pimpinan klasemen Inter Milan.
Pada ajang Liga Champions, Bianconerri tak bisa disentuh raksasa Spanyol, Real Madrid. Alessandro Del Piero kembali memetik kemenangan 2-0 di Santiago Bernabeu, setelah sebelumnya unggul 2-1 di Olimpico Turin.
Catatan gemilang itu membuat Gigi Buffon sontak memuji rekannya. Buffon memang hanya bisa menyaksikan rekannya bertanding dari pinggir lapangan. Kiper internasional Italia ini sedang terkapar cedera yang memaksanya absen bermain.
"Saya baru bisa kembali tampil di awal tahun 2009. Permainan Juve menunjukkan jika posisi saya tidaklah terlalu penting. Ini adalah fakta. Para pemain sudah tahu bagaimana bereaksi dan mengambil keputusan dalam situasi yang sulit," jelas Buffon seperti dikutip Channel4, Selasa (11/11/2008).
Posisi Buffon diambil alih kiper veteran asal Australia Alex Manninger. Penampilan mantan kiper Arsenal dan Fiorentina ini tidak terlalu mengecewakan. Meski refleksnya tak secepat Buffon, Manninger pandai membaca arah bola dan tepat mengambil keputusan. (okz)







Bryan Tarore

Ranieri: Thanks Alex!


Verona - Claudio Ranieri puas dengan kepemimpinan yang ditunjukkan Alessandro Del Piero pada skuadnya. Tak ada kata lain yang bisa diucapkan selain berterima kasih pada Del Piero.
Striker veteran Italia itu masih menebar pesona. Setelah sukses membawa Juve mengatasi Real Madrid, Del Piero kini kembali mencetak gol guna membawa timnya mengalahkan Chievo 2-0 di di Stadio Bentegodi, Minggu (9/11/2008).
Pemain yang akrab disapa Alex ini sukses menjebol gawang lawannya lewat tendangan spesialisasinya yaitu tendangan bebas. Gol dan kemenangan tersebut terasa sangat manis karena Del Piero sedang merayakan ulang tahun yang ke-34.
"Pemain sedang dalam performa bagus dan ingin bertarung. Dalam sebuah kelompok ada seorang juara yang muncul dan itu adalah Del Piero. Alex adalah kapten dan juga pemimpin skuad ini," puji Ranieri seperti dilansir Football Italia.
"Dia mengambil tim di pundaknya di saat yang sulit dan sekarang terbayar pengorbanannya dengan gol yang bagus. Saya senang karena kami dapat meniru kemenangan di Bernabeu," kata pelatih I Bianconeri ini.
Kemenangan ini membuat membuat "Si Nyonya Besar" kembali ke trek perebutan Scudetto. Namun Ranieri memiliki favorit lainnya. "Inter adalah favorit untuk keseluruhan skuad yang dimiliki. Sedangkan Milan lebih dominan karena mereka tak bermain di LIga Champions.". (dts)
Del Piero: Tak Ada Yang Spesial

Del Piero menjadi bintang Juventus dalam beberapa laga terakhir. Tak jarang ia menjadi penentu kemenangan, yang membuatnya panen pujian.
Yang membuat Del Piero jadi sorotan adalah kemampuannya menjebol gawang lawan. Di tiga laga terakhir, ia menggetarkan jala lawan lewat prosesi bola mati.
Semua itu memunculkan pertanyaan, adakah rahasia dari tendangan bebasnya itu. Del Piero menyatakan tidak.
"Pada kenyataannya, tak banyak cara melakukan tendangan bebas. Yang paling penting adalah bola yang kita tendang bisa masuk ke gawang," ujarnya seperti dikutip Reuters.
"Saya sendiri tak tahu rahasianya. Sejak saya muda, saya selalu memerhatikan tendangan bebas dan melatihnya. Semua itu bermula dari latihan dan terus menerus berlatih," pungkas Del Piero.
Masih akan ditunggu sepakan magismu, Del Piero.(zbl)







Bryan Tarore

Del Piero: Aku Kembali Muda


VERONA, SENIN - Umur boleh semakin tua, tapi ketrampilan tak boleh binasa. Itulah semangat yang dikobarkan Alessandro Del Piero. Di saat umurnya tak lagi muda untuk ukuran seorang striker, Alex justru semakin matang dalam bermain sepak bola.
Minggu (9/11) adalah hari ulang tahunnya yang ke-34. Malam harinya, Del Piero mencetak gol sebagaimana keahliannya selama ini, yakni mengeksekusi bola mati. Gol itu menjadi salah satu gol kemenangan atas Chievo Verona yang berakhir dengan skor 2-0.
Bagaimana Alex menanggapi gol di hari ultahnya itu? "Apakah aku seperti umur 20 tahun? Tentu, dengan begitu aku bisa bermain 20 tahun lagi dan bukannya tujuh atau delapan tahun lagi seperti diriku sekarang ini," kata kapten Juventus tersebut.
Ungkapan Del Piero ini memperlihatkan semangat yang tak pernah padam. Jika orang lain menganggap umur tua sebagai peringatan untuk segera pensiun, Del Piero justru menganggapnya sebagai awal dari kematangan sikap dan permainan. "Waktu membantu kita untuk dewasa dan aku senang kini berusia 34 tahun," tambahnya.
Gol ke gawang Chievo adalah ciri khas Del Piero. Ia sudah mencetak 158 gol sepanjang 377 kali penampilannya di Serie A. Pekan lalu, ia menghajar AS Roma dengan gol serupa. Pekan sebelumnya, Real Madrid dibuat tak berkutik dengan kefasihannya membidik tendangan bebas. Del Piero pantas berbangga atas skill-nya itu, tapi ia lebih mementingkan hasil positif bagi timnya.
"Saya senang dengan gol itu, tapi lebih dari itu aku senang atas kemenangan yang membuat kami dapat menjaga momentum dan konsistensi. Kami benar-benar menginginkan kemenangan ini dan sangat penting meniti klasemen setelah mengalahkan Real Madrid," lanjut penggemar Michel Platini dan Diego Maradona tersebut.
Omong-omong soal Maradona, Del Piero puas ketika ia mencetak gol ke gawang Madrid dan saat itu sang legenda Argentina menyaksikannya. Itu menjadi salah satu keinginannya sejak kecil dan ia terus berangan-angan untuk bisa sebaik idolanya tersebut.
"Aku tidak tahu apakah semua yang kucapai selevel dengan idolaku semasa kecil Michel Platini dan Diego Maradona, tapi aku tahu bahwa ketika aku muda aku mengimpikan mereka dan menyaksikan mereka dari dekat, jadi itu mungkin membantuku," katanya.
Kini Del Piero hanya membutuhkan satu gol lagi agar koleksinya genap 250 gol di semua kompetisi sepanjang karier yang dirintisnya sejak memulai debut Serie A pada 12 September 1993. (kcm)






Bryan Tarore

Juventus Dekati Empat Besar

Juventus mulai mantap di jalur kemenangan dan mendekati papan atas Serie A setelah mengalahkan Chievo Verona 2-0 di Stadion Marc Antonio Bentegodi, Minggu (9/11).
Bagi Juventus, ini adalah kemenangan keenamnya secara beruntun di semua ajang. Alhasil, La Vecchia Signora hanya tertinggal tiga poin dari Inter Milan yang memimpin klasemen dengan duduk di posisi keenam.
Juve membuka keunggulan pada saat babak pertama tersisa empat menit melalui tendangan bebas kapten Alessandro Del Piero. Gol ini semakin istimewa karena dicetak tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-34.
Tengah pekan kemarin, Del Piero juga bermain gemilang dengan mencetak seluruh gol kemenangan 2-0 Juve atas tuan rumah Real Madrid dalam ajang Liga Champions.
Sementara gol kedua ke gawang Chievo dilesakkan oleh striker Vincenzo Iaquinta dari titik penalti setelah Andrea Mantovani melakukan handsball di kotak terlarang.
Chievo sendiri harusnya juga mendapat hadiah penalti jika wasit lebih jeli melihat handsball yang dilakukan oleh bek tengah Juve, Nicola Legrottaglie, di pertengahan babak kedua.
Tak mampunya Chievo mencetak gol hingga pertandingan berakhir membuat posisinya di zona degradasi makin kritis. Tim asuhan Giuseppe Lacchini ini duduk di urutan ke-19 dengan nilai enam.
Sementara itu, Lazio juga mulai kembali ke papan atas usai mencukur Siena 3-0 di Olimpico. Lazio pun naik ke urutan tiga dengan nilai 22 dari 11 kali bermain.
Striker Tomasso Rocchi menjadi bintang kemenangan skuad Delio Rossi dengan mencetak dua gol dalam lima menit terakhir. Sementara striker Argentina, Mauro Zarate, mencetak gol pertama pada menit ke-58.
Kemenangan juga menjadi milik Fiorentina dengan memukul Atalanta 2-1 berkat gol Felipe Melo dan Alberto Gilardino dalam waktu tiga menit di babak pertama. Sedangkan gol penghibur Atalanta dicetak Sergio Floccari dari titik penalti di babak kedua.
Sedangkan dari Stadion Luigi Ferraris, tuan rumah Genoa berpesta gol dengan melibas juru kunci Reggina 4-0 lewat aksi hat-trick Gabriel Milito dan satu gol Giuseppe Sculli.
Adapun dari kawasan Sicilia, Catania berhasil bangkit dari ketertinggalan untuk memukul sesama tim Italia selatan, Cagliari, dengan skor 2-1. (zbl)






Bryan Tarore

Ranieri: Idiot atau Einstein


Hanya dalam waktu singkat, Claudio Ranieri berhasil memutar balik kritik yang menyerangnya menjadi pujian. Menurutnya "seorang idiot tidak bisa menjadi Einstein dalam semalam.".
Seperti dilansir dari detiksport.com, Juventus sempat mengalami keterpurukan dalam beberapa minggu ke belakang. Terutama dimulai saat mereka dikandaskan oleh Palermo 2-1. Setelah itu, poin tiga pun seolah enggan mampir ke Turin.
Namun tren kemenangan kini tengah dijalani The Old Lady. Yang paling memancing pujian adalah keberhasilan Ranieri membawa anak asuhnya mengandaskan Real Madrid dua kali di Liga Champions. Mantan pembesut Chelsea ini pun merasa bahwa ini hasil baik ini adalah suatu proses, dan bukanlah kebetulan belaka. Seorang Idiot tidak bisa menjadi Einstein dengan instan.
"Seorang Idiot tidak bisa menjadi Einstein dalam semalam atau dalam jangka waktu 15 hari. Yang bekerja adalah orang yang sama. Saya melakukan kesalahan sebelumnya dan saya akan menggantinya. Perbedaannya adalah dulu saya kalah dan sekarang menang," tukas Ranieri seperti dilansir Channel4.
Kemenangan Juventus atas Chievo dalam Liga Italia pekan ini tentunya akan semakin membuat pujian kembali diarahkan kepada mantan pelatih Valencia dan Chelsea itu. Pujian itu juga yang menurutnya akan menjadi penyemangat timnya, dan bukan beban.
"Saya tidak berfikir pujian akan membahayakan tim, namun sekadar vitamin penambah gairah. Tidak butuh waktu lama untuk kembali di jalur kami, sekarang kami akanmelihat bagaimana kekuatan dan debut Chievo di tangan pelatih barunya," sambung dia.
Dengan Juventus yang tengah lapar kemenangan, Ranieri pun tinggal mengarahkan Alessandro Del Piero cs untuk kembali bermain baik seperti saat mengandaskan Madrid dan AS Roma.
"Kami harus menjaga rasa lapar yang ada dan perasaan tanpa beban seperti yang kami tunjukkan di Bernabeu, itu adalah misi kami. Sebenarnya Juventus dibangun untuk membuat masalah kepada setiap musuh, baik di Eropa dan untuk menang atas Madrid tanpa kebobolan adalah bukan sesuatu untuk diperkirakan," pungkasnya. (dtc)








Bryan Tarore

Friday, November 7, 2008

Il Pinturicchio


Alessandro 'Alex' del Piero ALKISAH pada jaman Renaissance abad 14-15, hiduplah seniman bertalenta yang dijuluki Pinturicchio (pelukis cilik). Pelukis produktif yang terinspirasi dan karenanya tenggelam dalam kebesaran pelukis tenar masa itu, Raphael Perugino. Di abad ini, nama Pinturicchio kembali bergaung, dan Alessandro del Pierro (34) yang menggemakannya. Publik Italia memang menjuluki striker setinggi 173cm ini sebagai Pinturicchio. Sebab mereka punya garis hidup sama. Del Piero juga secara tak langsung banyak dihubungkan dengan pendahulunya, Roberto Baggio. Del Piero sendiri tentu saja tak pernah perduli dengan perbandingan yang dipopulerkan seniman Italia, Gianni Agnelli tersebut. Perbandingan yang sebenarnya melecehkan lantaran ia dianggap tak pernah bisa menyaingi kebesaran Baggio. Menjadi pemain sepakbola terkenal sudah menjadi hal yang disyukurinya.Pasalnya, ketika kecil ia tak pernah bermimpi menjadi pesepakbola handal. Cita-citanya sederhana : hanya menjadi sopir truk besar (lorry driver). Alasannya, lorry driver bisa berkeliling-dunia hal yang kini dilakoninya lewat sepakbola. Lahir dari keluarga sederhana di Conegliano Venetopada 9 November 1974. Ayahnya, Gino, adalah ahli elektronika, sedang ibunya, Bruna, ibu rumah tangga biasa. Bersama tiga temannya, Nelso, Pierpaolo, dan Giovanni-Paolo, Del Piero kerap bermain bola di halaman rumahnya. Ketiga temannya bercita-cita jadi pemain sepakbola. Tapi justru hanya Del Piero yang jadi pemain sepakbola beneran. Jikapun ada yang mendorongnya untuk serius menekuni bola adalah sang kakak, Stefano, yang memang pemain sepakbola profesional. Sayang, karir sang kakak mandeg lantaran cedera berat saat memperkuat Sampdoria. Tahun 1988 saat memperkuat AC San Vendemiano, bakat Del Piero tercium pemandu bakat. Usia 13, ia pun ditarik tim Padova Calcio. Empat tahun kemudian, pada usia 17 tahun ia mulai menjadi pesepakbola profesional, memperkuat Padova di Seri B. Cukup bermain 14 kali, kiprahnya langsung mengundang minat klub raksasa Juventus yang merekrutnya tahun 1993. Di klub berjuluk Nyonya Tua inilah namanya berkibar hingga ia menjadi langganan tim Azzuri, termasuk juga di pentas Piala Eropa 2008 ini. Seperti juga Pinturicchio, Del Piero mungkin tak bisa menjadi legenda utama di Italia. Tapi seperti juga Pinturicchio yang karyanya pada sejumlah gereja di Vatikan masih bisa terus diapresiasi hingga kini, Del Piero juga mungkin bisa menghasilkan sejumlah rekor monumental yang akan terus dikenang sepanjang masa. Sebotol Anggur untuk Donadoni ALESSANDRO Del Piero tak pernah bermain untuk Azzuri sejak Italia imbang 0-0 dengan Prancis pada ujicoba 8 September 2007. Banyak yang memprediksi, striker 33 tahun ini memang akan selamanya hilang dari peredaran timnas Italia. Tapi Del Piero punya tekad pribadi. Ia ingin di senja usianya menyumbangkan yang terbaik untuk tim Azzuri. Kiprahnya di Seri A bersama Juventus pun menggila. Menjadi top skorer dengan 21 gol! Pelatih Roberto Donadoni yang semula melupakannya pun mulai tergugah. Terlebih pahlawan Azzuri pada era 1990-an, Toto Schillaci, mengingatkannya lewat media. Katanya, ini saat yang tepat memanggil Del Piero karena ia sedang dalam performa puncak. "Sangatlah layak timnas memanggil pemain yang sedang dalam penampilan terbagus. Dan orang itu adalah Del Piero." Del Piero sendiri sangat mendambakan bisa memakai lagi kaos Azzuri. Kepada televisi, jauh sebelum ada pemanggilan ke timnas, ia membujuk Donadoni. "Untuk Roberto Donadoni terhormat. Saya minta Anda berpikir kembali. Lihat betapa bagusnya aku saat ini. Dan jika Anda membutuhkan sebotol anggur untuk merubah pikiran, saya akan segera kirimkan." Donadoni ternyata memang tergoda untuk memanggil striker veteran ini. Dan Del Piero punya hutang kepada sang pelatih: sebotol anggur! Saya Top Skorer Sejati BERBICARA penuh emosional di situs Juventus, Alessandro Del Piero mengungkapkan curahan hatinya, bagaimana ia sempat dipandang sebelah mata, sebelum sukses membuktikan ketajamannya dengan menjadi top skorer di Seri B pada 2007, dan top skorer di Seri A 2008 ini. Berikut pernyataan Del Piero: Saya top skorer sejati, untuk kedua kalinya berturut-turut, dan untuk pertamakalinya di Seri A. Jika ingin menyombongkan diri, maka saya mungkin akan berkata,"bukankah saya pernah bilang kepada Anda bahwa saya bisa jadi top skorer?.". Saya bicara kepada mereka, yang tak percaya, dan tak pernah percaya kepada saya Tapi, begitu saya bisa mewujudkan hal ini, yang pertama terlintas dalam pikiran adalah," Anda pernah bilang bahwa saya memang bisa." Itu untuk mereka yang percaya, yang selalu percaya kepada saya. Kepada mereka yang selalu menyemangati, dan bekerja sama dengan saya. Kepada mereka yang selalu bersama saya, berbagi gelora, keringat, kegembiraan, dan menambah motivasi saya untuk meraih kemenangan. Akhirnya, inilah saya yang mencetak 21 gol di Seri A, total 24 gol musim ini. Tapi, di atas jumlah hitungan gol itu, yang paling penting adalah kita bisa kembali berpentas di Liga Champions! Il Fenomeno Vero DI Juventus, klub yang dibelanya sejak debut melawan Foggia pada September 1993, Alessandro Del Piero adalah legenda hidup. Dengan menjadi Capocannoniere alias top skorer seri A 2007-2008, ia menyamai reputasi pendahulunya Paolo Rossi. Rossi, pahlawan Italia di Piala Dunia 1982 yang kebetulan juga dari Juventus, sebelumnya adalah satu-satunya pemain Italia yang pernah jadi top skorer berurutan dari Seri B, lantas di Seri A. Belum cukup, Del Piero pun mencatatkan diri sebagai top skorer sejati di Juventus dengan torehan total 241 gol di berbagai ajang kompetisi. Ia pun menjadi pemain Juventus yang paling sering berlaga, sebanyak 557 kali, menumbangkan rekor pendahulunya, Gaetano Scirea yang menorehkan laga 552 kali. Tak heran, pendukung Juventus memberinya julukan agung "Il Fenomeno Vero" (Real Phenomenon). Ya, Del Piero memang benar-benar fenomenal, setidaknya bagi klub berjuluk La Vecchia Signora alias si Nyonya Tua tersebut. Awalnya Menjadi Kiper ADA cerita lucu tentang masa kecil Alessandro Del Piero. Siapa yang pernah menyangka, pada awalnya posisi Del Piero ternyata adalah kiper! Ya, saat usia tujuh tahun ketika bermain di klub anak-anak lokal, AC San Vendemiano, ia lebih memilih posisi sebagai kiper. Alasannya sangat lugu, khas pembawaan anak kecil: dengan menjadi kiper, ia bisa lebih lama memegang bola dengan tangan dibanding para pemain lain. Ibunya pun mendukung Del Piero menjadi kiper dengan alasan berbeda. Kata sang ibu, dengan jadi kiper, anaknya tak akan terlalu banyak mengeluarkan keringat, dan jauh terhindarkan dari kemungkinan cedera. Untunglah ada kakaknya, Stefano, yang menyadarkan mereka dari pandangan sesat tersebut. "Tidakkah kalian melihat Alex bagus untuk menjadi penyerang?," ujar kakaknya. Sejak itulah, Del Piero pun banting stir menjadi striker. Untung ada sang kakak Ya...








Bryan Tarore