Thursday, June 25, 2009

DEBAT: Tim Terburuk Eropa 2008/09


Kriterianya mudah saja, seorang pemain dapat menjadi kandidat bila ia bermain di klub papan atas Eropa, tampil sangat mengecewakan dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Inilah pilihan kami (Harian Football) dengan formasi 4-4-2:

Michael Rensing (Bayern Muenchen)
Mengisi tempat yang ditinggalkan oleh kiper hebat Oliver Kahn memang tidak mudah dan tugas itu diemban oleh Rensing mulai musim kemarin. Empat tahun bertugas sebagai cadangan Kahn dan mendapatkan kesempatan mempelajari dirinya dari dekat tentunya cukup membuat Rensing dapat diandalkan menjadi benteng terakhir FC Hollywood. Tetapi bila sampai Franz Beckenbauer menyalahkan Rensing dan frustrasi atas penampilannya, pasti ada yang tidak benar.

Andrea Dossena (Liverpool)
Saat John Arne Riise pindah ke AS Roma, Rafael Benitez membuat pendukung The Reds optimis kalau Dossena adalah pemain yang lebih dari pantas untuk menjadi bek kiri baru di Anfield dan menjadi saingan Fabio Aurelio. Tetapi Dossena dengan cepat tenggelam dan bahkan jarang mendapat tempat di bangku cadangan. Saat Aurelio cedera pun, Benitez lebih percaya kepada bek muda Emiliano Insua. Sekarang kabarnya Dossena tidak mau bermain bagi Liverpool lagi musim depan dan ingin kembali ke Italia. Hanya gol yang dicetaknya ke gawang Edwin van der Sar di Old Trafford yang masih membuat suporter Liverpool mengingat dirinya.

Mikael Silvestre (Arsenal)
Menurut Arsene Wenger, rapuhnya lini belakang The Gunners adalah kurangnya pemain yang berpengalaman di posisi itu. Wenger pun tidak membuang waktu lama untuk menarik Silvestre ke Emirates Stadium. Bek Prancis tersebut sempat menjadi pilihan utama Sir Alex Ferguson bersama Rio Ferdinand di Old Trafford. Sayangnya semua tahun terbaik Silvestre sudah dihabiskan bersama Manchester United. Suporter The Gunners sangat kecewa dengan pemain itu dan menganggapnya sudah "jompo", satu hal yang akhirnya membuat Wenger kehilangan kesabarannya dan berdebat dengan para pemegang saham dalam rapat umum musim lalu.

William Gallas (Arsenal)
Bila akhirnya Wenger pensiun, ia pasti akan menyadari kalau pemberian ban kapten kepada Gallas adalah satu kekeliruan. Musim pertamanya menjadi kapten, Gallas malah duduk di lingkaran tengah dan mengomel seperti anak kecil saat timnya harus menghadapi tendangan penalti dari Birmingham City di menit terakhir. Musim lalu, kapten yang harusnya menjaga keharmonisan tim malah menghancurkannya dengan menceritakan kepada media mengenai keributan yang terjadi antara pemain The Gunners. Wenger pun langsung mencopot posisi itu dan memberikannya kepada Cesc Fabregas.

Christian Lell (Bayern Muenchen)
Pemain muda yang merupakan produk tim remaja Bayern ini menjadi pilihan kami untuk mengisi posisi bek kanan. Sejak diberi kesempatan oleh Ottmar Hitzfeld untuk masuk tim inti Bayern, Lell tidak mampu tampil konsisten musim ini seperti yang ditunjukkan pada musim 2007/08. Semuanya tidak terbantu dengan cedera engkel yang dialaminya. Meski total membela Bayern 24 kali musim lalu, Lell sudah diberitahu kalau karirnya bersama FC Hollywood telah berakhir dan dipersilahkan pindah ke klub lain.

Nani (Manchester United)
Musim ini seharusnya menjadi kesempatan emas bagi Nani untuk memperkuat statusnya sebagai pemain United, apalagi Ryan Giggs tidak bisa sering diturunkan dan Cristiano Ronaldo juga kerap kali dipasang sebagai striker oleh Fergie. Namun posisi Nani malah diambil oleh Park Ji-Sung dan bahkan Wayne Rooney. Puncaknya terjadi saat pertandingan melawan Tottenham Hotspur di kandang dan Setan Merah tertinggal 0-2 saat turun minum. Enggannya Nani turun ke belakang membantu Patrice Evra, membuat Aaron Lennon leluasa untuk merepotkan pertahanan United. Nani tidak muncul kembali saat babak kedua dimulai dan lima gol pun dilesakkan United untuk membalikkan keadaan menjadi 5-2.

Deco (Chelsea)
Masuknya Deco membuat para pendukung The Blues heran di posisi apa ia akan dipasang dalam lini tengah Chelsea yang telah diisi oleh Frank Lampard, Michael Ballack, dan juga Michael Essien. Tetapi dua gol dalam dua pertandingan pertama yang menjadikannya Pemain Terbaik Liga Primer Inggris untuk bulan Agustus menghilangkan keraguan para suporter. Tetapi penampilan Deco kemudian menurun yang juga diikuti oleh klubnya hingga Luiz Felipe Scolari akhirnya dipecat dan digantikan oleh Guus Hiddink. Bukan kebetulan juga bila Deco jarang bermain lagi saat Hiddink menjadi bos di Stamford Bridge. Pemain Portugal kelahiran Brasil itu pun membulatkan tekad untuk keluar dan menuju Inter Milan musim depan.

Ricardo Quaresma (Inter Milan/Chelsea)
Ketika Jose Mourinho memboyong Quaresma ke Giuseppe Meazza, itu dianggap menjadi sinyal baru bagi gaya Nerazzurri yang lebih menyerang. Tetapi semuanya hanya bertahan selama setengah musim saja, The Special One sebal melihat pemain itu yang tetap memilih untuk menggocek bola daripada mengumpan ke rekan lain yang lebih bebas. Karirnya mendapatkan kesempatan kedua saat Scolari membawanya ke Chelsea dengan status pinjaman. Quaresma pun mengatakan kalau rasa percaya dirinya kembali lagi bersama The Blues. Sayangnya, itu juga tidak bertahan lama dengan dipecatnya Scolari. Hiddink pun lebih menyukai Florent Malouda daripada dirinya. Penghargaan Kotak Sampah Emas bagi dirinya sebagai Pemain Terburuk di Serie A mewakili apa yang dialaminya musim lalu.

Julien Faubert (West Ham United/Real Madrid)
Sampai sekarang tidak ada yang tahu mengapa Real Madrid memutuskan untuk menarik Faubert dari Upton Park dengan status pinjaman. Sang pemain sendiri bahkan mengira ia tengah menjadi korban gurauan saat ditelepon oleh pihak Los Merengues. Gelandang Prancis yang bahkan tak dijamin masuk dalam tim inti The Hammers ini akhirnya hanya tampil selama dua kali bagi Madrid dan lebih banyak diingat karena tingkahnya di luar lapangan. Ia pernah absen dalam latihan karena dikiranya hari itu hari libur baginya, dan bahkan tertidur di bangku cadangan saat rekan-rekannya bertarung habis-habisan melawan Villarreal yang berakhir 3-2 bagi kemenangan Yellow Submarine. Kekalahan tersebut memastikan Barcelona menjadi juara La Liga.

Andriy Shevchenko (Chelsea/AC Milan)
Dua tahun setelah meninggalkan San Siro dan gagal total di Chelsea, Shevchenko dengan cepat menyambut kesempatan yang ditawarkan oleh Silvio Berlusconi untuk kembali ke Milan. Tetapi Sheva tidak bisa mengulang lagi masa keemasannya bersama Rossoneri. Dari 26 kali tampil dalam semua kompetisi, hanya dua gol yang bisa dicetaknya. Saatnya pensiun, Sheva?

Ronaldinho (AC Milan)
Tenggelamnya nama Ronaldinho setelah euforia pembeliannya oleh Milan mereda dapat membuat orang lupa kalau mantan Pemain Terbaik di Dunia itu baru berusia 29 tahun dan dapat menyalahkan penampilannya yang tidak maksimal karena jarang diturunkan oleh pelatih Carlo Ancelotti. 10 gol dari 32 kali main bukan hasil yang pantas bagi pemain sekaliber Dinho. Ia pun kemudian kehilangan tempatnya di tim nasional Brasil. Tidak heran bila Dinho ingin segera melupakan musim kemarin dan tak sabar untuk memulai musim baru di bawah asuhan Leonardo. (goal)

Formasi tim:

Shevchenko -- Ronaldinho
Quaresma -- Faubert -- Deco -- Nani
Dossena -- Silvestre -- Gallas -- Lell

No comments: